Minggu, 02 Desember 2012

AKULTURASI BUDAYA


Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Dan kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

Akulturasi merupakan sebuah istilah dalam ilmu Sosiologi yang berarti proses pengambil alihan unsur-unsur (sifat) kebudayaan lain oleh sebuah kelompok atau individu. Adalah suatu hal yang menarik ketika melihat dan mengamati proses akulturasi tersebut sehingga nantinya secara evolusi menjadi Asimilasi (meleburnya dua kebudayaan atau lebih, sehingga menjadi satu kebudayaan). Menariknya dalam melihat dan mengamati proses akulturasi dikarenakan adanya Deviasi Sosiopatik seperti mental disorder yang menyertainya. Hal tersebut dirasa sangat didukung faktor kebutuhan, motivasi dan lingkungan yang menyebabkan seseorang bertingkah laku.
Akulturasi budaya dapat terjadi karena keterbukaan suatu komunitas masyarakat akan mengakibatkan kebudayaan yang mereka miliki akan terpengaruh dengan kebudayaan komunitas masyarakat lain. Selain keterbukaan masyarakatnya, perubahan kebudayaan yang disebabkan “perkawinan“ dua kebudayaan bisa juga terjadi akibat adanya pemaksaan dari masyarakat asing memasukkan unsur kebudayaan mereka. Akulturasi budaya bisa juga terjadi karena kontak dengan budaya lain, system pendidikan yang maju yang mengajarkan seseorang untuk lebih berfikir ilmiah dan objektif, keinginan untuk maju, sikap mudah menerima hal-hal baru dan toleransi terhadap perubahan
Contoh-contoh dari hasil akulturasi budaya sangat beraneka ragam. Dalam bidang kesenian, arsitektur, agama dan lain-lain.

1.       Bentuk bangunan Masjid Sunan Kudus adalah salah satu akulturasi antara Hindu-Islam.

2.      Candi-candi di Indonesia sebagai wujud percampuran antara seni asli bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Candi Borobudur merupakan wujud dari akulturasi antara agama Hindu-Budha di Indonesia.


3.      Bangunan rumah di daerah Kota, Jakarta Utara dan Juga Museum Fatahillah Jakarta merupakan wujud akulturasi dari kebudayaan yang dibawa oleh bangsa-bangsa Eropa ketika menjajah Indonesia. Bangunan Museum Fatahillah menyerupai Istana Dam di Amsterdam, yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

4.  Selain dalam bidang arsitektur, akulturasi budaya juga berpengaruh dalam bidang kesenian. Cabang seni rupa yang berkembang adalah seni ukir dan seni lukis. Pola-pola hiasannya meniru zaman pra-islam, seperti daun-daunan, bunga-bungaan, bukit-bukit karang, pemandangan, garis-garis geometri, kepala kijang, dan ular naga. Contoh, masjid yang di hias dengan ukiran adalah masjid Mantingan, dekat jepara yang terdapat lukisan kera, ukiran gapura di candi Bentar di Tembayat, Klaten, yang dibuat pada masa Sultan Agung pada tahun 1633, dan gapura Sendang Duwur di Tuban. Pada zaman islam juga berkembang seni rupa yang disebut kaligrafi, yaitu seni menulis indah .
5. Kesusastraan pada zaman islam banyak berkembang di daerah sekitar selat malaka (daerah melayu) dan jawa. Kebanyakan karya sastra pada zaman islam yang sampai pada kita sekarang ini telah berubah dalam bentuknya yang baru, baik bahasa maupun susunannya. Pengaruh yang kuat dalam karya sastra pada zaman itu berasal dari Persia. Misalnya, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayan Budiman, dan Hikayat 1001 malam (alif laila wa laila).

6.   Perwayangan di daerah jawa dan sekitarnya yang mengangkat cerita Ramayana dan Mahabarata merupakan wujud akulturasi kebudayaan antara Hindu-Budha di bidang kesenian.

7.  Tari Betawi. Sejak dulu orang Betawi tinggal di berbagai wilayah Jakarta. Ada yang tinggal di pesisir, di tengah kota dan pinggir kota. Perbedaan tempat tinggal menyebabkan perbedaan kebiasaan dan karakter. Selain itu interaksi dengan suku bangsa lain memberi ciri khas bagi orang Betawi. Tari yang diciptakanpun berbeda. Interaksi orang Betawi dengan bangsa Cina tercipta tari cokek, lenong, dangambang kromong.

8. Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran dan gambar wayang.

9.   Alat musik Tanjidor selain mendapat pengaruh dari budaya Cina, kesenian Betawi dipengaruhi oleh beragam budaya dari Eropa. Orkes Tanjidor, misalnya, mulai ada sejak abad ke-18. Konon salah seorang Gubernur Jenderal Belanda, Valckenier menggabungkan rombongan 15 orang pemain alat musik tiup Belanda dengan pemain gamelan, pesuling Cina, dan penabuh tambur Turki untuk memeriahkan pesta.

1   Orkes Gambus. Budaya Timur Tengah ternyata juga memiliki pengaruh kuat dalam khasanah Betawi, hal ini terbukti bahkan sampai saat ini di seantero Jakarta terdapat puluhan grup orkes gambus. Orkes ini biasanya ditampilkan di acara pesta perkawinan untuk mengiringi para penyanyi gambus baik laki maupun perempuan. Mereka biasanya membawakan lagu-lagu gambus dengan lirik religius maupun lagu-lagu cinta berbahasa Arab.

11. Wayang Betawi. Salah satu produk budaya Betawi hasil akulturasi dari budaya Jawa dan Sunda adalah wayang. Namun demikian, pengaruh Sunda lebih tampak dalam kesenian ini. Mungkin secara geografis memang lebih dekat. Misalnya dalam hal penggunaan bahasa. Dalam wayang digunakan bahasa Betawi campur Sunda. Dalam dunia pewayangan Betawi dikenal dua jenis wayang: Wayang Kulit (dalang terkenalnya H. Surya Bonang alias Ki Dalang Bonang), serta Wayang Golek (dalang terkenalnya Tizar Purbaya). Umumnya, wayang Betawi mengambil lakon tentang kehidupan kerajaan di dunia pewayangan. Ada pula tokoh komedi Udel (persamaannya Cepot di dalam Sunda).

12. Pakaian Adat Betawi, orang Betawi pada umumnya mengenal beberapa macam pakaian. Namun yang lazim dikenakan adalah pakaian adat berupa tutup kepala (destar) dengan baju jas yang menutup leher (jas tutup) yang digunakan sebagai stelan celana panjang Melengkapi pakaian adat pria Betawi ini, selembar kain batik dilingkari pada bagian pinggang dan sebilah belati diselipkan di depan perut. Para wanita biasanya memakai baju kebaya, selendang panjang yamg menutup kepala serta kain batik. Pada pakaian pengantin, terlihat hasil proses asimilasi dart berbagai kelompok etnis pembentuk masyarakat Betawi. Pakaian yang digunakan pengantin pria, yang terdiri dari: sorban, jubah panjang dan celana panjang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab. Sedangkan pada pakaian pengantin wanita yang menggunakan syangko (penutup muka), baju model encim dan rok panjang memperlihatkan adanya pengaruh kebudayaan Cina Uniknya, terompah (alas kaki) yang dikenakan oleh pengantin pria dan wanita dipengaruhi oleh kebudayaan Arab.

13. Tari Kcak adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Ini merupakan akulturasi kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia.







Sebagai hasil interaksi bangsa Indonesia dengan India, maka melahirkan bentuk akulturasi kebudayaan Indonesia dengan India meliputi bidang:

1. Seni bangunan
Bentuk seni bangunan yaitu candi. Bangunan candi di India berbentuk stupa (Budha),namun di Indonesia dengan pola dasar punden berundak. Bahkan dalam seni bangun candi di Jawa timur, unsur budaya India tidak begitu jelas. Candi di India berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja dewa, sedangkan di Indonesia berfungsi sebagai makam.

Dalam sejarah bangsa Indonesia, seni bangunan/ arsitektur mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Nenek moyang kita dalam merancang bangun senantiasa mempertimbangkan syarat kenyamanan, kekokohan bangunan dan keindahannya. Syarat tersebut diterapkan pada bangunan baik yang bersifat profan (keduniawian) maupun sakral (suci).

Hasil interaksi Indonesia dengan India dalam bidang arsitektur adalah bangunan candi. Bangunan candi di India berbentuk stupa (Budha), namun di Indonesia dengan pola dasar punden berundak. Bahkan dalam seni bangun candi di Jawa timur, unsur budaya India tidak begitu jelas. Candi di India berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja dewa, sedangkan di Indonesia berfungsi sebagai makam. Pola dasar bangunan candi merupakan hasil budaya bangsa Indonesia dari jaman sejarah awal (megalithikum) yaitu punden berundak. Dari aspek ini nampak sekali adanya unsur asli yang tetap digunakan dalam bentuk budaya yang baru.

2. Seni rupa
Akulturasi dalam seni rupa tampak dengan adanya patung Budhisme dan patung Hinduistis. Disamping itu jugadipahatkan relief cerita pada dinding candi, misal Lalitawistara, Jataka,Kresnayana, Ramayana dan sebagainya. Seni hias ini akan bercampur dengan senihias asli Indonesia, dimana dalam fase ketiga unsur asli muncul kembali, misalatap rumah bertingkat/ tumpang. Proses munculnya kembali unsur asli Indonesiaoleh Krom dinamakan Jawanisasi atau Indonesianisasi.

Seni rupapada bangunan candi dapat dilihat pada bagian kala makara yaitu hiasan di atas pintu berupa kepala kala (tanpa rahang bawah – ciri pola Jawa Tengah) dan didasar pintu diukir makara (binatang mitologi) di kiri dan kanan pintu. Selain itu juga kala merga yaitu pola hiasan candi yang berupa menjangan. Pola ini mencerminkan pelangi dan berkembang terus pada pola pahat/ ukir jaman Islam.

3. Aksara dan seni sastra
Huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta berpengaruh terhadap sastra Indonesia. Berbagai prasasti dari Kutai, Taruma dankerajaan Mataram kuno merupakan bukti pengaruh tersebut. Tulisan daerah banyak yang merupakan perkembangan dari tulisan India, misal huruf Jawa dan Bali. Dalam seni sastra, banyak muncul karya sastra yang bersumber dari Mahabharata dan Ramayana yang nantinya dicampur unsur asli misal tokoh Punokawan. Jenis kakawin merupakan nyanyian/ puisi dalam bahasa Jawa kuno yang menggunakan sekar ageng. Bentuk ini hasil dari pengaruh sastra Hindu. Kakawin biasanya menggunakan peraturan guru dan lagu. Pengertian lainnya adalah syair besar dalam bahasa Jawa kuno, misal kakawin Ramayana, Smaradhahana, Gatotkacasraya, dan sebagainya.

4. Sistem pemerintahan
Masuknya pengaruh India berakibat perubahan sistem pemerintahan, dimana sistem demokrasi diubah dengan sistem pemerintahan turun temurun. Bentuk pemerintahan kerajaan bercorak Hindu Budha berkembang di Indonesia. Namun tidak semua sistem diubah, misal raja tidak pernah memerintah dengan kekuasaan tunggal seperti di India. Raja Majapahit tidak dapat bertindak sewenang-wenang karena ada Dewan Saptaprabhu. Penguasa daerah memiliki otonomi yang besar dalam mengelola daerah kekuasaannya, kecuali aspek tertentu tetap dipegang pusat kerajaan.

5. Sistem kalender
Sistem penanggalan India berpengaruh dalam kalender Indonesia, misal penggunaan tahun saka (├žaka) dalam berbagai prasasti. Penulisan tahun dapat menggunakan angka maupun berupa kalimat. Perhitungan kalender Masehi dengan Saka memiliki selisih 78 tahun, misal tahun700 Saka = 778 Masehi. Carilah dari berbagai sumber mengenai contoh penulisan angka tahun tersebut.

6. Sistem kepercayaan dan filsafat
Bentuk akulturasi ini ditandai dengan berkembangnya agama Hindu-Budha di Indonesia. Kedua agama ini bercampur dengan kepercayaan bangsa Indonesia, animisme dan dinamisme. Proses ini disebut dengan sinkretisme, misal upacara kenduri atau bersih desa, aliran Tantrayana dan aliran Syiwa Budha.

Beberapa pengaruh perkembangan Hindu Budha dalam sektor kehidupan masyarakat antara lain: masyarakat mulai mengenal pemujaan pada dewa dan pola pemerintahan dengan sistem kerajaan. Disamping itu juga adanya penggolongan masyarakat (sistem kasta) dan terjadinya perpaduan kebudayaan yang menghasilkan ciri khas budaya Indonesia.



1 komentar:

  1. kita juga punya nih artikel mengenai 'Akulturasi', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1571/1/Artikel_10504179.pdf
    trimakasih
    semoga bermanfaat

    BalasHapus